Strangefolk

April 25, 2009

Malam ini gw online menunggu donlodan film Jepang Okuribito (Departures) sambil nyetel mp3 album terakhir Kula Shaker – Strangefolk.

Gw udah cukup sering album ini. Yah album comeback Kula Shaker gitu loh. Gak mungkin gw lewatin.

Ada satu track yg menarik bgt, track berjudul Strangefolk.. yg ternyata bukanlah sebuah lagu, hanya seorang wanita bercerita gitu.

Dulu2 denger sii sekelibat gitu aja, tp malam ini gw penasaran… ngomong apa sii tu pencerita ? Biar jelas, gw segera cari liriknya.?

Ini dia :

Once upon a time, a long long time ago there was a planet floating all alone in space. Miraculously it sustained many forms of life moving and non-moving creatures and they would all take great pleasure in watching the heavens above them revolving in perfect harmonic order.

Before televisions and radios existed, before podcasts and internet pornography had even been imagined, families would gather round the fire and they would tell folk the stories to pass the time and take wisdom from the elders.

and the best part :

Once upon a time, a god asked a great king ‘What is the most amazing thing in the world?’. The king replied that every day a million souls pass into the abode of death and yet none believes that they shall follow.

Awesome!!! It is not ? Merinding loh gw :) Bener2 dah, Kula Shaker emang klo bikin lirik ajaib2. Dari album pertama K sampe ini yg terbaru, lirik2nya masih ajaib2. Dengan musik rock’n'roll psychadelic, lagu dan lirik terasa mistis. magis. Salut!!! Semoga band ini gak break(bubar) lagi. Amin

I Grieve.

Maret 30, 2009

Turut berduka cita sedalam-dalamnya atas tragedi Situ Gintung.

Semoga mereka yang kembali pada-Nya diberikan tempat yg layak disisi-Nya.

Tuk keluarga yg ditinggalkan, semoga ketabahan serta kesabaran selalu menyertai.

Amin.

I Grieve.

I grieve
Peter Gabriel
It was only one hour ago, it was all so different then
Nothing yet has really sunk in, looks like it always did
This flesh and bone, is just the way that you were tied in
Now there’s no-one home

I grieve for you, and you leave me
It’s so hard to move on
Still loving what’s gone
They say life carries on
Carries on and on and on and on

The news that truly shocks is the empty, empty page
While the final rattle rocks its empty, empty cage
And i can’t handle this

I grieve, for you
And you leave me

Let it out and move on
Missing what’s gone
They say life carries on
They say life carries on and on and on

Life carries on in the people i meet
In everyone that’s out on the street
In all the dogs and cats, in the flies and rats
In the rot and the rust, in the ashes and the dust
Life carries on and on and on and on
Life carries on and on and on
It’s just the car that we ride in, the home we reside in
The face that we hide in, the way we are tied in
Life carries on and on and on and on…
Life carries on and on and on

Did I dream this belief?
or did I believe this dream?
Now I can find relief…

I grieve

This day 17 years ago.. the saddest day of my life..

Rest in Peace, Mother.

I wish that someday we’ll meet again in the next life…

Amin!

Oh Dear God… save her n take her under your arms.

Nambah lagi neh koleksi The Joker gw. Kali ini berupa Headknocker Figure dari lini The Dark Knight Movie produksi Neca.

Headknocker Toys tu patung dengan kepala yg agak besar n bisa goyang – goyang.

So ini beberapa foto yg gw capture pake hp gw. Detail wajahnya lumayan mirip yah. Mantab !!! Pantas dijadikan sebagai suvenir untuk mengenang alm. Heath Ledger yg sudah berperan sempurna menghidupkan The Pyscho Clown Prince.

Hail To The Joker !!!

Photobucket Photobucket Photobucket

Photobucket Photobucket Photobucket

Everybody’s changing
And I don’t know why

Everybody’s changing
And I don’t feel right

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

Tau dari lagu apa penggalan lirik di atas ? Yup. Lagu milik Keane yg berjudul Everybody’s Changing.

Well, buat gw, taon 2009 ini, banyak sekali orang – orang disekitar gw yg “changing.” In positive manner yeee.

Sementara gw sebaliknya… dan itu yg bikin ngerasa tak bersemangat akhir2 ini. Berasa dikejar – kejar. Hahahah perasaan gw aja kali yah… tp yah… *sigh*

So little time
Try to understand that I’m
Trying to make a move just to stay in the game
I try to stay awake and remember my name
But everybody’s changing
And I don’t feel the same

O Dear God… give me ttrength !!!



Happy B’day To You ;)

Maret 16, 2009

diansastro16

:) Happy B’day To You :)

From morning till night
May your birthday be bright
And nicer than ever before…
And as years come and go
May your happiness grow
And your dreams be fulfilled

[..]huaeheheheh kayak Dian Sastro bakalan baca ni postingan ^^;

Yah hampir 2 – 3 minggu ini, film2 impor di bioskop2 terutama 21/XXI tidak ada update yg berarti. Mana Watchmen ? Mana Dragon Ball Evolution ? Mana Street Fighter ? Dll. Yg ada hanya film2 yg dah berumur lawas macam Seven Pounds, Defiance (bused!), Valkryie. Kalaupun ada yg baru, film2 tersebut termasuk kategori telat rilis, dengan dvd – dvd copy kualitas ori yg udah beredar (contoh Passenger-nya Anne Hathaway) dan film2 indonesia yg buat gw gak jelas bgt. Jujur aja, hanya 1-2 judul film Indonesia aja yg benar2 menarik buat gw.

Jawaban dari lambatnya film2 baru hollywood nongol di bioskop2 kita ternyata gw temui di artikel ini :

Selamat Datang Era “Assembling” Film

Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono baru saja mengambil langkah penting untuk mendorong dan memantapkan tumbuhnya industri film dalam negeri. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Ir. Jero Wacik baru saja mengeluarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Permenbudpar) Nomor: PM.55/PW.204/MKP/2008, tertanggal 25 November 2008, tentang pemanfaatan jasa teknik film dalam negeri dalam kegiatan pembuatan dan penggandaan film nasional, serta film impor.

Munculnya peraturan ini sudah lama diperjuangkan dan dinantikan oleh insan industri film di Tanah Air. Peraturan ini jelas akan memacu tumbuhnya industri film di dalam negeri, khususnya jasa teknik film hal mana akan mempermudah dan mengefisienkan proses pembuatan film nasional, serta memantapkan perkembangan industri film nasional.

Usaha jasa teknik sempat tertinggal perkembangannya akibat lahirnya era digital yang bersamaan dengan krisis multidimensional yang menimpa Indonesia dan merosotnya produksi film nasional selama beberapa tahun. Mestinya hal itu tidak perlu terjadi kalau penggandaan kopi film impor yang diputar di sini digandakan di dalam negeri. Saat industri film nasional mati suri, justru film impor merajai perbioskopan kita, bahkan keterusan sampai sekarang. Kopi filmnya juga didatangkan dari luar negeri, bukan hasil jasa teknik dalam negeri.

“Assembling” Film

Permenbudpar menetapkan, impor film asing seluloid hanya dapat dilaksanakan dalam bentuk master negatif atau dupe negatif film yang merupakan hasil reproduksi dari master negatif film. Impor film seluloid dalam bentuk master negatif atau dupe negatif itu dapat disertai dengan satu contoh kopi film jadi. Sedangkan penggandaan kopi film yang akan dipertunjukkan di Indonesia wajib menggunakan jasa teknik film di Indonesia.

Bioskop atau media elektronik dilarang mempertunjukkan atau menayangkan film nasional dan film impor sebelum dinyatakan lulus sensor oleh Lembaga Sensor Film (LSF). Lulus sensor itu hanya untuk copy film hasil penggandaan perusahaan jasa teknik film dalam negeri yang telah memiliki izin usaha jasa teknik film.

Sekretaris Jenderal Gabungan Studio Film Indonesia (GASFI), Rudy S Sanyoto SE, yang juga menjadi Wakil Ketua BP2N (Badan Pertimbangan Perfilman Nasional) mengemukakan, munculnya Permenbudpar mengingatkan kita kepada kebijakan pemerintah dalam bidang otomotif pada tahun 1970-an. Ketika itu pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa mobil yang diimpor harus dalam bentuk S/CKD (semi/completed knocked down). Artinya, mobil yang masuk harus di-assembling di Indonesia dan mobil built-up tidak boleh lagi diimpor. Meskipun waktu itu industri otomotif tidak terlalu siap, pemerintah tetap teguh dengan kebijakannya. Hasilnya pun luar biasa. Lapangan kerja di bidang industri otomotif maju pesat.

Munculnya Permenbudpar bisa dibilang menjadi lahirnya assembling film di Tanah Air. [SP/Willy Hangguman]

Lonceng Kematian bagi Bioskop dan Film di Indonesia 2009

Pemilik Inter Studio, Rudy S. Sanyoto SE, mengibaratkan Permenbudpar dengan assembling mobil di Indonesia pada era 1970-an. Spontan disanggah HM Johan Tjasmadi, selaku Ketua LSF, “Mobil beda dengan film. Sebab mobil harus dibikin mulai dari mur, ban, sampai mesin. Kalau film sudah bisa dibuat secara utuh dari cerita, skenario, sampai penyutradaraan, tapi prossesingnya belum, harus di luar negeri. Lab dalam negeri belum siap, apalagi belum mendapatkan sertifikat ISO.”
Jadi kalaupun diwajibkan untuk segalanya dilakukan di dalam negeri, Tjasmadi menyarankan kebijakan dalam tiga tahapan;
1.Seluruh lab dalam negeri pada tahun pertama harus menyiapkan diri sampai mendapatkan ISO.
2.Mulai tahun kedua bisa mencetak film produksi dalam negeri dengan cukup sempurna.
3.Maka pada tahun ketiga, eksportir film dari luar negeri tanpa dipaksa pun akan bersedia memilih lab di Indonesia untuk mencetak copy.
“Kalau sekarang dipaksakan berlaku, segalanya bisa macet, impor film stop, bioskop tak mendapat pasokan lagi hingga satu persatu tutup,” tuntas Tjasmadi, “Dan pada gilirannya, karena sudah tiada bioskop lagi, film kita pun otomatis akan terhenti!”
Hatoek Soebroto selaku pemilik Mitra Lab sendiri merasa Permenbudpar tersebut tidak perlu. Terutama karena sebenarnya sudah menumpuk luber pekerjaan yang mesti diselesaikan, nyaris tak tertampung. Kalau tetap dipaksakan bisa sangat berbahaya.
Produser produktif dari StarVision, Ir Chand Parwes Servia membenarkan, “Berbahaya sekali. Dulu film Indonesia terlalu diproteksi, akibatnya malah mengalami mati suri pada tahun 1998. Sekarang setelah sepuluh tahun akan diproteksi lagi dengan cara yang tidak benar. Sangat bisa menewaskan perfilman nasional hanya demi kepentingan studio. Kapasitas lab dalam negeri tidak mencukupi. SDM-nya, mesinnya, akhirnya akan terjadi persaingan tidak sehat. Hakekatnya, otomotif bukan produk kreatif. Ingat, orang yang dipaksa akan merasa tidak nyaman hingga tidak kreatif lagi.”
Mengenai tugas LSF (Lembaga Sensor Film) yang mesti mencegat, semua film yang akan disensor harus diproses di dalam negeri, Parwez menyebut, “LSF ditujukan untuk perlindungan moral masyarakat, sekarang akan dimanfaatkan juga demi kepentingan dagang? Kami selalu mencetak di luar negeri, karena lab dalam negeri belum siap, belum waktunya!”
Nia Dinata, produser-sineas idealis dari Kalyana Shira Film, menyebut Permenbudpar sangat parah, “Peraturan tersebut tidak realistis karena untuk optical sound transfer belum ada di sini. Biasanya optical sound kami bikin di luar, hanya bikin dua married print, selebihnya untuk copy-copy berikut tentu di Indonesia. Kalau saja semua fasilitas sudah ada, juga jumlah lab film paling tidak sudah berdiri lima yang bagus dan kompeten, boleh saja bikin peraturan tersebut. Sekarang baru ada dua lab di Jakarta dan tidak bisa optical sound. Bangkok saja punya lima lab yang lebih memungkinkan sekarang.”
Sebagai sutradara laris yang memproduseri film-filmnya sendiri, Hanung Bramantyo mencela, “Itu keputusan yang tergesa-gesa. Mengingat secara SDM kita belum siap, semestinya yang diperlukan sekarang adalah alokasi pajak untuk membangun dan mensubsidi lab film.”
Jadi kapan sebaiknya Permenbudpar ini diwujudkan? “Mulai tahun 2015, setelah SDM dan infrastrukturnya memadai!” tegas sineas muda ini.
Ody Mulia Hidayat, produser Maxima Pictures yang memproduksi lima film per tahun, kontan menyetujui, “Tidak mungkin direalisir minggu depan! Memangnya kita sudah siap dengan sistem, alat, dan SDM-nya? Mari kita duduk sama-sama dan membahasnya dengan kepala dingin, jangan tergopoh-gopoh. Belajar dulu, umpama orang kuliah, perlu waktu enam tahunlah sedikitnya. Jadi kalau dicanangkan mulai 2009, mestinya menjadi 2015, baru bisa!”
Bagaimana pula dengan penggandaan copy film impor yang mesti dilakukan di lab dalam negeri? Tony Arif dari Camila Internusa Film (yang mengedarkan film-film major company dari Hollywood) berkomentar, “Permenbudpar tersebut terlalu prematur. Seharusnya disosialisasikan lebih dulu sambil mempersiapkan pabriknya yang harus canggih. Sebab film impor dari segi audionya amat hebat.”
Perkara teknis audio memang secara jujur diakui, lab dalam negeri belum nempil menggandakan Dolby, THX, apalagi program gambar 3-D? Rasanya mustahil perusahaan film luar mau meminjamkan master-copynya untuk digandakan di sini. Beberapa tahun lalu, pernah dicoba animasi panjang (untuk bioskop) Dora Emon diduplikasikan lab kita. Hasilnya warna tubuh si robot kucing masa depan bukannya biru cemerlang tapi bluwek keabu-abuan (!). Pembawa filmnya dari Jepang bengong melihat malih warna ini.
Deddy Mizwar selaku Ketua BP2N, menjawab pertanyaan penulis, “Tunggu Yan, hari Selasa depan, akan dikaji segala sesuatunya oleh BP2N, manfaat dan mudaratnya!”
Kesimpulan akhir penulis, bila Permenbudpar yang gegabah tersebut jadi dilaksanakan mulai tanggal 1 Januari 2009, maka lonceng kematian telah ditabuh oleh Menbudpar Ir Jero Wacik untuk membunuh semua bioskop, dan menyusul juga secara langsung segera meremukkan film Indonesia …

Sumber!

Nah… dengan adanya aturan (Permenbudpar) Nomor: PM.55/PW.204/MKP/2008 itu, maka penggandaan film impor harus wajib musti dilakukan di indonesia, padahal dengan minimnya lab2 dan SDMnya, eksportir film hollywood (Motion Pictures Association) ga percaya dengan penggandaan yang dilakukan di indonesia. Akibatnya, mereka melakukan pending terhadap film-film yang seharusnya udah ditayangkan di indonesia. Misalnya Watchmen dan Dragonball Evolution. Bukan ga mungkin kalau kondisi seperti ini terus-menerus gak ditemukan solusi secepatnya, nanti film-film epic 2009 kayak X-Men Origins: Wolverine, Star Trek, Harry Potter dan bahkan TRANSFORMERS: REVENGE OF THE FALLEN harus dipending penayangannya di indo.

TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK !!!

Arrrrrghhhhhhhh !!!!

Februari 16, 2009

WordPress bangke neh.. udah capek2 nulis panjang lebar lanjutan post sebelumnya… truss publish… eeeeeeeeh yg nongol separo… anj@^**^#^*#^&!& !!!

Bete ah… males neh… aaaaaaaaaaah kampreeeeeeeeeed !!!

:( :(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(
:( :(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:
:( :(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(
:( :(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(
:( :(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(
:( :(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(:(

Hari jumat dan sabtu kemarin, gw menghabiskan malam di EX Plaza, Jakarta. Yah soalnya selama 3 hari (sampai hari minggu ini), EX Plaza mengadakan acara Synchronize. Acara yg bertepatan dengan ulang tahun ke-5 EX Plaza tersebut menghadirkan konser Indie Band Yahud Indonesia. Diadakan di City Hallnya, selama 3 hari mulai jam 5 sampai selesai setiap harinya. Gratis pula !!! Line-upnya cihui sekali deh.

Friday, 13 Feb 09
Ape On The Roof
Mocca
Zeke And The Popo
Efek Rumah Kaca

Saturday, 14 Feb 09
Sister Duke
Aditya
Sore
White Shoes & The Couples Company
Pure Saturday
Everybody Loves Irene

Sunday, 15 Feb 09
Santamonica
Anda
Soulvibe
Agrikulture
Endah N Rhesa
Circus

Synchronize Day #1 Friday the 13
Gw datang bersama Wahyu n adeknya Dicky. Dari depok gw samperin mereka ke rumahnya di daerah Plumpang. Saat itu jam pulang kerja. BUSET dah! Muacet banget. Mana jalanan di daerah situ lagi dioperasi dan kriting2. Oh mobilku, maafkan daku membawamu melewati jalanan nan bolong2 ancur itu. Kita berangkat dari rumah Wahyu di Plumpang jam 1/2 8an. Dan sampe di EX kira2 jam 1/2 9 – jam 9an (biasalah kelamaannya gara2 macet karena faktor jalanan ancur di plumpang sekitarnya, sampe kira2 depo pertamina itu). Gw dah was was bgt, takut kalo Efek Rumah Kaca (ERK) udah maen. Yah soalnya band inilah alasan gw memutuskan datang di hari pertama Syn…

Saat sampe di EX itu kebetulan bertepatan dengan Mocca tampil. Udah kedengeran sejak di parkiran. “Mudah2an ERK belom maen. Mudah2an ERK belom maen,” harap gw saat itu. Untunglah, pas tanya temen yg kebetulan juga nonton, ERK ternyata belom maen. Rupanya mereka jd band pamungkas. Yippie!

Karena gak begitu tertarik liat Mocca, kita mojok aja di salah satu sudut sambil ngobrol2 dengan teman2 laennya. Setelah Mocca selesai, giliran Zeke and The Popo yg tampil. Hmm, kayaknya seru neh. Gw, Wahyu n Dicky memutuskan cari spot yg enak buat nonton. Ternyata eh ternyata, nonton Zeke and The Popo itu ngebosenin. Yah itu buat gw sih. Wahyu juga berpikiran gitu dink. Jadilah nonton ZATP tanpa ada kesan yg gimana2.

Akhirnya setelah kebosanan denger n liat ZATP, tampilah Efek Rumah Kaca. Dan ternyata. Dashyat !!! Mereka cuma bertiga. Tp saat live, soundnya terasa penuh. Cholil pun nyanyinya tanpa out of tune out of control, padahal sedang memetik gitar yg cukup rumit. Klo gw dah buyar deh salah satu (entah gitarannya entah nyanyinya). Pengaruh Thom Yorke terasa sekali pada gayanya. Tp it’s ok. Namanya juga influence. Mantab bgt neh band. Salut !!! Gw yg baru sekali ini nonton mereka langsung, jd kepengen lagi nonton. Kayaknya kemaren berasa kurang.. Asik bgt dah pokoknya. Oh iya, di hari pertama ini, ERK adalah satu-satunya band yg mendapat teriakan encore. Dan lagu untuk sesi encore itu adalah Desember. Lagu bagus yg sukses bikin penonton berkaraoke masal.

Dan Aaaku… selalu suka… sehabis… hujan di bulan desember…

to be continue…


My New Guitar for Guitar Heroes

My New Guitar for Guitar Heroes

Hohohoho… akhirnya setelah bertahun-tahun  maen Guitar Heroes pake stik PS.. kemaren gw memutuskan beli juga gitarnya. Dan ternyata… asssssssik banget! Nyanduin oi. Maen di level medium or hard, pas bagian melodi dah berasa jd gitaris handal euy. Hihihihihih MANTABS.

Tau gini  gw beli dari dulu dah. Tp gak papa… beli skrg ternyata lebih murah harganya. Soalnya dah masuk produk lama ^^

Stik Gitar ini cocok / bisa di pakai untuk bermain Guitar Heroes Series di PS2.

So… Let’s Rock !!! Jeng jeng jeng jeng !!!